CERPEN : Bertepuk Sebelah Tangan

Suara sunyi malam mulai datang suara angin mengalun berhembus, lampu seperti semakin temaram walau sebenarnya tidak meredup. Hanya saja Nina sudah merasa sangat terkantuk, kelopak matanya ingin mengatup, dan matanya tak kuasa menahan beban kelelahannya. Terkadang kantuk itu menguat membuatnya hanyut sebentar namun tidak lama ia tersadar dan meneruskan kegiatannya. Sudah tiga jam dia mengerjakan tugas rumahnya, tugas Fisika. Mata pelajaran paling tajam dari pada matematika, dengan rumus-rumus rumit berselang-seling. Ditambah dengan guru pengajarnya yang galak dan tegas pada setiap murid yang tidak mengerjakan tugasnya, ia akan memberikan hukuman seperti dikeluarkan selama pelajaran atau mengerjakan soal di papan tulis sampai bisa dan dilarang melihat rumus.
Pelajaran SMA paling menyeramkan pikirnya dalam hati, Nina lalu membalikkan referensi buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi siang. Sebenarnya ia jarang meminjam buku disana hanya saja ada sebuah alasan. Seseorang yang ia suka, Hafid terlihat olehnya memasuki perpustakaan saat ia dan Putri baru saja membeli jajanan di kantin. Terpikir olehnya bahwa ia ingin menyapa walau hanya sebentar mungkin bisa mengobati hatinya yang rindu melihat wajahnya, ia mengajak putri memasuki perpustakaan dan menulis daftar hadir pengunjung. Putri berjalan mendahuluinya sedangkan ia mencari dimana Hafid berada, ia menyusuri jajaran buku, tangannya menyentuh deretan buku tapi matanya berkeliaran mencari Hafid. Nina bahkan melupakan sahabatnya yang sedang sibuk duduk di bangku memilih-milih buku untuk dibacanya.
Akhirnya terlihat olehnya seseorang, ia hapal betul postur tubuhnya, tercium olehnya buku-buku usang yang sudah berwarna kuning dimakan waktu. Dilihat olehnya Hafid sedang berbungkuk mencari buku-buku dalam sebuah kardus-kardus yang tersusun, sepertinya buku-buku dalam kardus itu sudah akan dibuang karena sudah uzur. Terdengar olehnya suara kardus yang tersetuh lengan Hafid dan suara buku yang disimpannya kembali kedalam.
“Sedang apa kak?” Nina yang tepat di belakangnya siap memperlihatkan senyum termanisnya.
“Oh.. Nina, ini lagi nyari buku. Kata Bapak perpus buku yang kakak cari ada disini. Di tumpukan buku usang.” Hafid berdiri dan memegang buku di tangannya, buku itu terlihat usang dengan robekkan dan coretan tak berarti di covernya.
“Sedang cari buku?” Hafid bertanya membuat Nina terkejut harus menjawab apa.
“e..e.. ia lagi nyari novel Kak,”
“suka novel ya? Pernah baca karya NH.Dini?”
Nina menggeleng.
“Coba baca deh, novelnya sederhana tapi menurut Kakak berkesan” Nina mengangguk, lalu Hafid pergi setelah sebelumnya meminta izin pada Nina.

Walau hanya sekejap pertemuan tadi siang dengan Hafid, ia sudah sangat senang. Entah perasaan apa itu? ia sedang jatuh cinta. Cinta yang entah keberapa kalinya ia sekarang sedang menjomblo, namun kali ini berbeda Nina menutup diri dan memendamnya. Tidak ada yang tahu bahwa ia mencintai seorang ketua OSIS, bukan karena ia malu. Namun ia hanya ingin membuat Hafid terkesan dan akhirnya jatuh cinta padanya. Cintanya kali ini berbeda, sungguh hanya ia yang tahu. Namun cinta ini memiliki kesamaan dengan cinta sebelumnya, ia tidak bisa tidur kerena memikirkannya, ia selalu melamun memikirkannya dan bahkan akhir-akhir ini ia menjadi rajin akibat motif cintanya kepada Hafid, itu pengaruh jatuh cinta yang bagus. Terang saja Nina merasa sangat bergairah saat belajar akhir-akhir ini, ia merasa malu jika ia mendapatkan nilai jelek. Hatinya selalu mengira-ngira bagaimana kalau Hafid tau bahwa dirinya payah dalam hal prestasi di kelas, saat itulah timbul semangat dalam dirinya.
Hafid adalah seorang laki-laki yang sopan dan terlihat cerdas apalagi saat ia berbicara, tidak salah dia terpilih menjadi ketua OSIS. Ia seorang lelaki yang mudah bergaul dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Perawakannya tinggi dan kurus, dengan senyum yang selalu mewarnai wajahnya.
Jam dinding tua di ruangan tengah berbunyi dua belas kali, namun matanya kini sudah bisa beradaptasi dengan suasana ditambah secangkir moccacino yang ia buat sendiri. Namun ia sadar ia harus tidur. Nina mampu terjaga setelah dalam hatinya teringat Hafid, ‘mungkin ia juga sedang belajar’ pikirnya. Tugas Fisika itu sudah hampir selesai, ia sibuk menghapus, menulis, mengotret dengan banyak sisa-sisa kotoran penghapus yang sudah menyebar di buku catatannya. Ia menulis jawaban terakhirnya, merapihkan peralatan tulis dan buku catatannya lalu memasukannya ke tas. Nina mengambil cangkir Moccacino-nya dan meneguk minuman Mocca terakhirnya, ia beranjak menuju kamar mandi dan menggosok giginya. Lalu pergi ke tempat tidur mengistirahatkan diri sambil mengucap doa.
Pagi terasa lain hari ini, entah apa yang akan terjadi. Sesuatu seperti mengganggu hatinya namun apakah itu? ia bertanya-tanya dalam hati. Nina berusaha menghilangkan perasaan itu dan cepat menyibukkan dirinya dengan berangkat ke sekolah. Pagi itu cerah, matahari bahkan menerangi bumi sangat awal, kehangatannya menemani angin pagi yang masih berhembus. Nina berjalan menyusuri jalan gang, baru saja ia turun dari angkot hijau. Biasanya ia melewati gang untuk sampai ke sekolah walau ada jalan lain yaitu jalan raya utama, kau tahu juga alasannya karena Hafid. Ia selalu melewati gang ini. Beberapa kali Nina beruntung bisa berjalan bersama atau bahkan hanya saling sapa, ada kepuasan tersendiri dalam hatinya. Namun pagi ini berbeda, Hafid tidak tampak melewati gang.
Sesampainya di kelas ia duduk di depan, sahabat dan sekaligus teman sebangkunya sudah terlihat dengan beberapa alat tulis dan catatan di mejanya. Suasana kelas sudah tampak gaduh, Nina baru sadar karena hari ini ada tugas Fisika. Biasanya ia juga sama dengan teman-teman yang lain, mondar-mandir sebelum jam masuk mencari teman yang sudah menyelesaikan tugas lalu menyontek jawaban teman yang baik dan malang. Namun kali ini ia tidak melakukannya, ia sudah berusaha keras sampai tengah malam untuk mengerjakannya.
“Tugas Fisikanya sudah selesai?” Putri bertanya dengan wajah sayu seperti kelelahan.
“Sudah, aku berusaha keras tadi malam” Nina menunjukkan senyum bangganya.
“Aku sudah berusaha mengerjakan, tapi tidak ketemu hasilnya” Putri menghapus catatan yang ditulisnya mungkin jawabannya belum tepat. Nina termenung tidak biasanya Putri kali ini kesulitan mengerjakan tugas pikirnya.
“Sini aku bantu” Nina mendekatkan diri ke arah putri duduk, agar bisa menjangkau catatan dan alat-alat tulis. Sampai bel masuk berbunyi, suasana menjadi sunyi. Murid-murid terlihat rapi dan sikap taat yang dibuat-buat karena terihat dari jendela Ibu Mira pengajar Fisika berjalan menuju kelas.

Dentam bel berbunyi, menyuarakan sebuah nada bel yang khas tanda waktu istirahat para murid. Siswa-siswi disibukkan dengan kesibukkan masing-masing, makan, mengobrol, membaca, mengerjakan tugas dan lain-lain. Nina dan putri berjalan menuju kantin, mereka berencana membeli beberapa gorengan Bu Entin yang juga istri penjaga sekolah. Itulah kebiasaan mereka selalu bersama-sama kemanapun, seperti tidak pernah terpisahkan. Sejak kelas satu mereka selalu bersama, bahkan sampai sekarang mereka kelas dua selalu saja duduk sebangku. Nina sudah menganggap Putri seperti saudaranya sendiri, dimana ada Nina pasti disana ada Putri, jika tidak mungkin mereka sedang bertengkar itulah yang dikatakan teman-teman mereka. Putri lebih dari sahabat baginya, selalu menemani disaat suka dan duka, bersedia mendengarkan cerita-ceritanya tentang keluarga ataupun tentang pacar-pacarnya. Putri adalah perempuan yang menarik menurut Nina, ia tertutup dalam mesalah cinta ia bahkan tidak percaya dengan pengakuan Putri bahwa ia belum memiliki pacar sampai sekarang. Wajahnya cukup cantik dengan tubuh mungil, rambut panjangnya terlihat sering di ikatnya katanya agar tidak menganggu saat sedang belajar. Putri orangnya susah untuk ditebak, ia pendiam tapi bersikap tegas dalam mengambil keputusan, Putri juga terlihat sering membela dirinya dan membantunya dalam mengerjakan tugas yang dianggapnya sulit.
Mereka duduk di depan Perpustakaan sambil memakan jajanan gorengan, Nina dan Putri saling berpandangan dan mengobrol kadang tiba-tiba mereka tertawa bersama mengingat pelajaran fisika tadi, ada kejadian menarik. Bu Mira tiba-tiba mengatakan akan mengadakan ulangan, tadi. Sontak siswa-siswi protes dan tidak setuju dengan keputusan Guru Fisika itu. Namun bukan Bu Mira namanya kalau tidak menuai kontroversinya dalam hal mengajar yang terbilang ekstrem, Ibu bilang ‘Ibu sudah pernah berkata pada kalian, untuk belajar bukan karena hanya ada perkerjaan rumah saja, tapi setiap hari karena saya akan selalu mengadakan ulangan secara mendadak’. Dengan terpaksa siswa-siswi yang terlihat pasrah mengeluarkan kertas selembar yang di perintahkan Bu berparas cantik namun terlihat sangar jika marah, sementara Bu Mira sudah menulis soal-soalnya di papan tulis. Tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu, ternyata seorang guru piket yang menyampaikan ada rapat di ruangan guru, semua guru harus hadir saat itu juga. Bu Mira berhenti menulis soal di papan tulis, ia lansung mengambil alih pembicaraan dan berkata bahwa ulangan diundur disaat siswa-siswi sudah berteriak riuh karena lega untuk sementara mereka selamat. Bu Mira lalu pergi membawa tas dan peralatannya yang menandakan bahwa rapat akan menghabiskan semua jam pelajarannya di kelas 8C.
Di tengah obrolan yang masih mengarah pada pelajaran Fisika, Hafid dan seorang temannya melintas di hadapan Nina. Hafid dan temannya melihat dan menyapa ke arah Nina, Nina langsung semangat menyapa Ketua OSIS pujaannya. Sementara Putri terlihat malu-malu saat Hafid lewat, ia menunjukkan sikap tidak seperti biasa. Nina bertanya-tanya melihat sikap sahabatnya itu, ‘apa mungkin Putri juga menyimpan rasa pada Hafid?’ namun pikiran itu ditangkisnya, sahabatnya itu terlalu pemalu untuk suka pada seseorang pikirnya. Nina juga yakin Putri mengerti bahwa ia menyukai Hafid walau Nina tidak pernah menceritakan perasaannya itu. Baginya mungkin perilakunya pada Hafid mungkin cukup untuk membuat Putri paham kalau ia menyimpan rasa padanya.
Bel tanda masuk berbunyi, Nina dan Putri berjalan menuju kelas mereka. Kelas sudah penuh sesak, teman-teman mereka riuh bercampur ribut seperti kebiasaan istirahat. Tiba-tiba Ketua kelas Nina berdiri di depan kelas, ia meninggikan suaranya bersiap mengeluarkan teriakannya untuk menghentikan kebisingan kelas.
“Mohon perhatiannya..” Kata Johar dengan nada bijaksana yang sepertinya ia buat sebulat mungkin. Seisi kelas langsung menghentikan kesibukkan mereka, suasana kelas menjadi hening. Mereka sudah siap menerima informasi yang akan disampaikan Sang ketua kelas.
“Hari ini, kalian di bubarkan. Karena ada kepentingan rapat para guru, tapi kalian harus tertib dan jangan ribut” Johar lalu melangkah maju menuju tasnya, sepertinya ia akan segera pulang. Teman-teman yang lain juga begitu, mereka senang karena dipulangkan lebih awal. Sebagian siswa sudah meninggalkan kelas sementara yang lain masih dalam kesibukkannya, mereka biasa berdiam dulu dalam kelas merapihkan pakaian seragam mereka atau berdadan terlebih dahulu sebelum pulang. Nina mengambil cermin dari tasnya, ia memperhatikan wajahnya barang kali ada kotoran menempel pada wajahnya. Sementara Putri hanya berdiam diri memperhatikan Nina dan menunggunya selesai sebelum akhirnya mereka pulang menuju gerbang sekolah.

Putri menggeser kursinya lebih dekat dengan posisi Nina yang masih asyik bercermin.
“Nin aku mau cerita, boleh?”
“Boleh” Nina mengangguk, lalu memberikan senyum ke arah putri.
“Tapi ini rahasia” Putri melirik-lirikan matanya ke arah teman-temannya yang masih cukup banyak dalam kelas namun tampak tidak terlalu memperhatikan mereka berdua. Nina lalu mengangguk meyakinkan sahabatnya agar mempercayainya menyimpan rahasia apapun padanya. Nina menduga-duga, kira-kira rahasia apakah yang akan Putri ceritakan padanya, baru kali ini Putri bermain rahasia-rahasiaan biasanya ia yang selalu seperti itu.
“ini tentang Hafid” jantung Nina terasa berhenti saat mendengar nama itu terucap dari mulut sahabatnya yang kalem itu. Nina menghentikan kegiatannya bercermin, kini ia tertarik dengan ucapan Putri.
“Dia nembak aku tadi malam” Nina terlihat kaget mendengarnya, terucap di bibirnya kekagetan itu seakan tidak percaya perkataan sahabatnya. Putri kini terlihat menunduk mungkin malu memperlihatkan wajahnya yang merah pada Nina. Ekspresi Nina jadi tidak karuan, ia berusaha mengatur napasnya, hatinya seperti sakit tertekan entah oleh apa. Ada beban di hatinya yang begitu perih terasa. Apa yang terucap dari mulut Putri sulit untuk ia cerna dalam pikirannya. ‘Hafid nembak Putri’ hatinya terasa amat perih mendalam, matanya mulai berkaca-kaca tapi ia berusaha agar Putri tidak memperhatikannya. Ia tahu Putri ingin mengabarkan kabar gembira ini padanya, Nina sudah pernah mendesaknya agar ia mempunyai pacar. Dan kini ada seseorang yang mengatakan cinta padanya, seharusnya sebagai sahabat ia harus ikut senang merasakan kebahagian sahabatnya. Walaupun orang yang dicintainya yang menembak sahabatnya, walau kenyataan ini memang perih ia harus siapa menerimanya. Ia mencoba menabahkan hatinya terlihat Putri masih menyembunyikan wajahnya menunduk lalu tersenyum-senyum tanda bahagia di hatinya.
“Lalu bagaimana jawaban kamu?” Nina akhirnya bisa berucap walau ada sesuatu yang berat meganjal dadanya.
“Aku ingin minta pendapatmu” Putri lalu memegang bahu Nina, Nina terlihat agak gemetar walau ia dengan susah payah berusaha tabah.
“Me.. menurutku ia baik, Ketua OSIS lagi, terima saja Put,” Nada bicara Nina mulai gemetar ia menahan air mata yang mulai berembun menyelimuti matanya, napasnya terasa mulai tidak beraturan, mengapa begitu sakit pikirnya.
“Baiklah, aku akan bilang malam ini jawabannya” Putri tersenyum terlihat sangat bahagia, baru kali ini Nina melihatnya begitu sangat bahagia, ia sadar bahwa sahabatnya itu sedang jatuh cinta.
“Put, aku duluan ya, soalnya ada perlu disuruh jemput adik” Nina beranjak dan mengambil tas selendangnya dengan tangan yang masih gemetar, rasa sakit di hatinya tidak dapat terbendung lagi. Matanya sudah berkaca-kaca dan seperti tidak dapat terbendung lagi oleh kelopak matanya, mana mungkin di tengah kebahagian sahabatnya ia berkata jujur tentang hatinya. Rasanya juga percuma untuk mengatakan itu, buktinya Hafid sebenaranya mencintai sahabatnya, Putri. Wajah Putri masi berseri-seri karena senang, ia mengangguk mengizinkan Nina untuk pulang duluan.
“Aku akan cerita besok ya Nin” Putri berteriak saat Nina akan segera melewati pintu, ia menoleh sebentar dan memberikan anggukan kepada sahabatnya itu.

Nina bingung harus kemana ia pergi, tidak mungkin baginya menangis sepanjang perjalanan pulang menggunakan angkot. Ia berjalan menuju toilet menggantung tas selendangnya dan mengambil sapu tangannya, ia menghapus air matanya walau terasa sia-sia, air mata yang sempat tertahan tadi mengalir deras, rasa perih itu makin nyata. Ia rasa lututnya lemas, beban di dadanya semakin berat saja, sebegitu besarnyakah rasa cintanya pada Hafid sehingga seperti ini rasanya. Nina sadar bahwa cintanya telah bertepuk sebelah tangan. Ia berusaha menghibur dirinya sendiri, bahwa dirinya patut senang karena kebahagian sahabatanya. Ia juga harus yakin bahwa Putri adalah yang terbaik bagi Hafid, ia cantik, baik dan pintar sementara dirinya terkenal di kelas sebagai anak yang sering mengganti-ganti pacarnya terlebih selama ini Nina belum menunjukkan prestasinya di kelas. Sedangkan Putri adalah seorang siswi pandai yang tidak pernah absen masuk lima besar di kelas. Nina menyadari kesalahan-kesalahannya ia terlalu banyak berbuat sewenang-wenang pada adik kelas, dan merasa paling senior. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Putri yang bisa membatasi pergaulannya walau terkadang ia sering mengabaikannya untuk berkumpul dengan anak-anak yang terkenal kerena kecantikannya dan exisnya di sekolah. ‘Putri adalah seorang yang terbaik untuk Hafid, seharusnya aku bahagia’ pikirnya. Ia menghapus air matanya yang mengering dengan tisu basah dari tasnya. Hatinya sudah membaik sekarang. Rasa perih itu mulai berkurang, hatinya mulai bisa menerima. Ia membasahi kedua matanya yang terlihat bengkak karena menangis, lalu mengusapnya dengan saputangan, ia lalu keluar dari toilet. Sebelumnya ia melihat-lihat barang kali ada orang yang akan melihatnya bila ia keluar. Tapi ternyata seisi sekolah sudah sepi, yang terdengar hanya suara kepala sekolah yang sedang memimpin rapat di ruang guru, Nina keluar dengan mata yang terlihat merah dan bengkak.
Ia berjalan menyusuri kelas di lorong menuju Perpustakaan, ia teringat lagi oleh Hafid lalu ia buang pikiran itu jauh-jauh. Ia masuk ke Perpustakaan untuk mengembalikan buku referensi Fisika yang ia pinjam kemarin saat ada Hafid, dan tentunnya sebelum kejadian ini.
Ia mengisi daftar pengunjung, Bapa penjaga Perpus yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu memandangnya aneh karena Nina terlihat berantakan dengan mata seperti kemasukan air, bengkak. Untung Bapa Perpus tidak bertanya apa-apa, Nina lalu duduk di bangku Perpus. Ia memutuskan mengistirahatkan dirinya sebentar sebelum pulang. Teringat olehnya bahwa Putri akan bercerita tentang Hafid saat ia menjawab cintanya besok, ia harus siap dan melupakan Hafid. Ia juga sadar bahwa ia harus mengubah sifatnya mulai sekarang, ia bertekat untuk fokus belajar untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ia sadar bahwa selama ini banyak membuat orang tuanya sedih karena ia sering membuat ulah di sekolah, bertengkar dengan adik kelas ataupun karena nilainya yang kurang dari ketuntasan beberapa mata pelajaran. Di meja tempat ia duduk terlihat sebuah buku novel yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya, ia lalu mengambilnya, di cover novel tersebut tertulis, ‘Padang ilalang di belakang rumah karya NH.Dini’.
Cerpen Karangan: Cika J

CERPEN : My Best Friend

“Sisca!!! Cepat bangun, nanti kamu telat masuk sekolah lho!!” kata Bu. Lauren sambil marah-marah.”
“Uh, iya mah, aku bangun deh”.
Sisca adalah anak tunggal dari Pa. Johnson dan Bu. Lauren. nama lengkap Sisca adalah: Fransisca Fitriya.
Lalu Sisca melihat ke arah jam dinding. “hah!! Sudah jam 6. Lalu Sisca segera turun dari tempat tidurnya dan langsung mandi. Ia mandi bebek (mandi asal-asalan jebar-jebur aja). Setelah mandi ia turun ke bawah untuk sarapan.

“mah, kok mamah bangunin aku kesiangan sih?” Tanya Sisca kesal.
“ya, maafin mamah ya, soalnya tadi mamah ketiduran, ya sudah ayo dimakan lagi, nanti telat lho!!” jawab Bu. Lauren dengan suara lembut.
“ya mah.”

Hari ini Sisca sarapan roti isi cokelat keju, dan susu coklat hangat. Sisca makan sangat cepat, karena ia buru-buru pergi sekolah. lalu ia berangkat diantar oleh mang Dedi (sopir di rumah Sisca).
“ayo mang, cepat jalan” kata Sisca.
“Baik non.” kata mang jajang

Ketika sudah sampai di sekolah, Sisca terlambat 10 menit. pintu gerbang sekolah sudah ditutup. lalu Sisca memohon kepada pak Dani (satpam di SD PELITA BANGSA) agar ia boleh masuk, akhirnya setelah memohon ia boleh masuk dan diizinkan oleh pak Dani.
“Terima kasih ya pak!”
“ya neng” jawab pak Dani.

Ketika ia masuk ke kelas v-a.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam” jawab Bu. Tiara (guru Ilmu Pengetahuan Alam).
Sisca lupa bahwa jam pertama adalah pelajaran Bu. Tiara, karena Bu. Tiara terkenal dengan kegalakkannya.

“Ma… ma… maaf bu, saya telat”
“oh iya, sisca kenapa kamu terlambat?” Tanya Bu.Tiara.
“maaf bu tadi saya bangun kesiangan.” jawab Sisca
Saat Sisca berjalan ke mejanya. Bu. Tiara memanggil Sisca.
“Sisca! kamu jangan duduk dulu” tegur Bu. Tiara dengan suara keras dan lantang.
“ya Bu” jawab Sisca.
“Kamu berdiri dulu disana, sampai pelajaran saya selesaim mengerti!”
“ya Bu” jawab Sisca.
Berarti Sisca berdiri selama 2 jam lebih
Lalu Sisca disoraki dan diejek oleh teman-temannya sekelas kecuali chika (sahabat baiknya).
Siska hanya menunduk dengan wajah yang memerah karena merasa malu. lalu, Bu Tiara melanjutkan pelajarannya.

kringgg… kring… kring…
Bel berbunyi itu tandanya Istirahat, anak-anak berlarian ke luar kelas. Dan tiba-tiba Chika memanggilku untuk ke kantin bersama.
“Sisca, ke kantin yuk!” kata Chika sambil berlari ke arah Sisca.
“ayo”. Jawab Sisca dengan singkat.
Lalu saat sudah sampai di kantin, ia duduk di meja no. 3 dan Chika langsung memanggil pelayan di kantin tersebut.(seperti di restoran saja ya).
“kamu mau pesan apa Sis?” Tanya Chika.
“emmm, aku mau Avocado Juice and cheese burger” Jawab Sisca
“oh, baiklah aku pesan 2 Avocado juice and 2 cheese burger.
Tiba-tiba chika bertanya.
“eh sis, tadi kenapa kamu telat datang?” Tanya Chika.
“emm… emm, itu mamah aku kesiangan bangunnya.” jawab Sisca dengan singkat.
Tiba-tiba Riska dan Maura datang.
“eh Chik, kamu ngapain sih temenan sama orang pemalas.” kata Maura dengan sombong
“tau tuh, aku mah malu temenan sama dia.” Kata Riska.
“eh, Maura, Riska aku gak malu kok temenan sama Sisca karena dia anak yang jujur, Justru aku malu temenan sama kalian, karena kalian adalah anak sombong” jawab Chika dengan lantang.
“Oke, itu sih terserah kamu.” kata Maura
“ya sudah kenapa kamu yang repot” jawab Chika dengan nada sebal.
Akhirnya kedua anak sombong itu pergi.
“mereka berdua memang sangat menyebalkan, jadi kamu yang sabar ya!” kata Chika.
“iya Chik, Terima Kasih ya kamu udah belain aku” kata Sisca.
“iya, sama-sama. itulah gunanya BEST FRIEND.”
Mereka tertawa dengan riang, sambil tos. Lalu ia memakan pesanannya bersama-sama. tiba-tiba kring… kring… kring…
Waktu istirahat sudah habis. Lalu mereka berdua masuk ke kelas dan duduk di tempatnya masing-masing.

Cerpen Karangan: Husna Aulia

CERPEN : Mencuri Puding

Hari ini, atau lebih tepatnya lagi tanggal 5 Maret, Papa berulang tahun. Mama menyiapkan puding untuk Papa yang akan pulang dari kantor jam 7 malam. Kulihat pudingnya sudah jadi. Puding karamel yang menggoda ditambah warna coklatnya yang mengiurkan itu membuatku ingin segera melahapnya. Tetapi, Mama melarangku untuk memakannya, karena, puding itu untuk Papa. “Tunggu Papa pulang baru boleh dimakan..” Itulah kata-kata Mama yang membuat wajahku cemberut.
Mama, Kak Mila (kakakku) dan Fara (adikku), sedang tidur siang. Diam diam aku pergi ke dapur dan menuju ke kulkas.
TUITTT… Suara pintu kulkas saat kubuka. Mataku membesar, mulutku tersenyum lebar dan lidahku menari kegirangan saat melihat puding karamel buatan Mama tepat di depanku. Kuambil dan segera kulahap puding itu. “Enak!!”

“Aah… Kenyang..” Puding telah habis tak bersisa setelah kumakan. Kukembalikan cetakan puding itu ke kulkas tanpa pudingnya. Aku pergi ke WC atau toilet dan mencuci tangan ke wastafel. Pelan-pelan aku kembali ke kamar agar tak ketahuan bahwa aku telah MENCURI PUDING di rumahku sendiri.
Jam 7.15 Papa pulang. Mama dengan senyuman menghampiri Papa dan menolong Papa melepaskan dasinya. “Ma, ma.. Sekarang yah…!” Seru Kak Mila sambil mengedipkan mata kirinya. Mama membalas dengan anggukan kepala.
“MAMAAA!!! PUDINGNYA HILANGG!!! HANYAA ADA CETAKANNYA NIIIH!!” Teriak Kak Mila dari dapur. Aku yang ke dapur ini hanya memasang wajah pucat. Aku setengah menyesal karena perbuatanku yang bodoh ini. Aku melanggar janjiku pada Mama saat Mama telah selesai membuat puding…
“Kalian janji ya untuk tidak memakan puding ini kecuali saat Papa datang?” Kata Mama.
“Janji Ma!” Janjiku, Kak Mila dan Fara sambil mengacungkan jari kelingking kami.
Dan sekarang…

Aku malah melanggar janjiku sendiri. Aku menyesal. Benar-benar menyesal…
Tak ada kata lain lagi selain… MENYESAL.

“Siapa yang memakannya sih. Dasar tuh orang. Gak tau ya kalau bikin puding itu susah, karena harus sabar dan berhati-hati!” Omel Fara yang membuatku tertegun.
“Iya. Siapa sih yang makannya..” Tambah Mama.
“Sebenarnya… Sebenarnya… Siang tadi.. Tasha… Yang memakannya…” Kataku terpotong-potong.
“Jadi, kam…”. Papa yang sudah selesai mandi, ternyata mendengar pembicaraan kami. “Ada apa ini? Kok, kelihatannya penting banget? Ikut dong..” Kata Papa manja sekaligus memotong perkataan Mama.
“Maaf, ma…” Kataku pelan sambil menundukkan kepala

“Jadi, begitu… Gak apa apa kok, Sha… Papa juga diberi kue nih sama bos Papa. Jadi, kita makan bareng kue ini saja, yuk!” Seru Papa.
Akhirnya, masalah selesai. Dengan jujur ternyata semua masalah bisa selesai. Awal yang rumit, akhir yang bahagia….
Kalian bisa mengambil pelajaran berharga yang tercantum pada cerita ini.
Terima kasih telah membaca…
Cerpen Karangan: Hannisa Tsabitah Aura

PUISI CINTA : Bidadari Tanpa Sayap

Kelembutan hatinya membuatku terpana. . .
Melihat kehindahan Rembulan,
Sama seperti melihat keindahan wajahnya.

Sungguh kuat dia menghadapi ini semua. . .
Menghadapi keaadaannya yg begitu nyata.
Merasakan penderitaannya sendirian.
Dan mengukur penderitaan diatas mimpi . . .

Walau dia hanya Bidadari tanpa sayap,
Tapi kelembutan hatinyalah yang membuatku merasa seperti.....
Berada di atas awan.
Sekian dulu puisi cinta kali ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian.

PUISI CINTA : Pilihan

ku coba tuk lupakan
dan ku coba tuk membenci
tapi dirimu selalu ada
difikiranku yang tak menentu

mengapa kau ada
membayangiku
bimbang
perasaan tak menentu

sebuah pilihan
harus aku tentukan
apakah aku harus melupakanmu?
atau.
tetap mengenangmu
walau kau sudah melupakanku

PUISI CINTA : Cinta Yang Tak Pasti

mungkin aku terlalu bodoh untuk mengerti
mungkin aku tak sengaja jg menyakiti
andai aku tau isi hatimu
andai kesempatan itu datang lagi padaku

sekarang mustahil bagiku
bahkan menyentuh bayangmu, aku tak mampu
sekarang aku terpuruk dalam juarang sesalku
dan cinta ni jadi sesak dalam dadaku
aku tau cinta ini sudah tak laku

tapi biarkan cinta ini aku miliki
biarkan cinta ni menjadi bebanku
aku tak peduli
meski menghambat jalanku
aku tau mencintaimu adalah tak pasti

PUISI CINTA : Cinta Itu Ikhlas

cinta bagaikan air laut yang mengisi sebagian isi bumi…
memberi banyak kehidupan..
membuat orang ingin tahu..
dan tiap orang pasti mengalami cinta..

cinta itu keikhlasan..
cinta itu kemauan..
cinta itu saling mengerti..
cinta itu indah jika kita bisa menempatkannya pada tempat terbaik dalam hati..jadikan cinta itu indah dihatimu..
karena cinta bisa seindah yang kau mau

“karena aku mencintaimu”
Dalam segala kurang dan lebihmu
Dalam pintaku pada-NYA terselip namamu yang selalu kurindu

I Miss you :v

PUISI CINTA : Dibawah Langit Biru

Kehadiranmu mengubah hidupku
Membuka mata hati yang telah lama buta
Buta akan indahnya mencinta
Dan buta akan manisnya cinta

Sosokmu dalam kisahku mengubah segalanya
Ajarkan aku lebih bijaksana
Lebih mengerti akan artinya cinta
Dan lebih peka dengan segala rasa

Kamulah orang yang selalu ada disaat kubahagia
Karena saat2 bersamamu adalah sumber kebahagianku
Bagaikan mata air yang terus mengalir
Kebersamaan kita unggahkan jutaan rasa yang lama tak tercipta

Terimakasih telah terangkan hidupku yang semula temaram

Kini ,,,
Dibawah lagit biru aku bersumpah
Mencintai kamu adalah hal terindah
Sampai nantikan kujaga cinta ini
Sampai matikan ku kenang kisah ini
Selamanyaa ,,,

PUISI CINTA : Cinta Sejati

Saat cinta hadir dalam jiwa
Rasa rindu merasuk dalam kalbu
Terbuai aku akan indahnya cinta
Namun semua itu hanya bayangan semu

Rasa sakit yang kini di rasakan
Kini hilang terhembas bersama angin lalu
Dunia terasa hampa jika aku tanpamu
Cintamu begitu bergelora dalam jiwaku

Tak sanggup aku jalani hidup ini
Tanpa adanya dirimu di sampingku
Terlalu banyak kenangan indah yang telah kulalui
Saat masih bersamamu

PUISI CINTA : Rasa Rindu Merasuk Jiwa

Saat cinta hadir dalam jiwa
Rasa rindu merasuk dalam kalbu
Terbuai aku akan indahnya cinta
Namun semua itu hanya bayangan semu

Rasa sakit yang kini di rasakan
Kini hilang terhembas bersama angin lalu
Dunia terasa hampa jika aku tanpamu
Cintamu begitu bergelora dalam jiwaku

Tak sanggup aku jalani hidup ini
Tanpa adanya dirimu di sampingku
Terlalu banyak kenangan indah yang telah kulalui
Saat masih bersamamu

PUISI CINTA : Hati Yang Sunyi

Hati ini terasa sunyi tanpa nafas cintamu
Hidup ini sepi tanpa senyuman dirimu
Diri ini senyap tanpa jiwa kasihmu
Ruang hatiku gelap tanpa arak untuk melangkah

Cinta ,,
Mengapa semua harus terjadi ???
Mengapa di saat terang dunia kalbuku kau berlalu
Kau tinggalkan sepenggal dusta dalam hati

Cinta ,,
Aku hanya mampu memeluk rasa
Memeluk mimpi senja yang kalbu
Menanti harapan fajar kelana

Cinta ,,
Kau buat aku tak yakin untuk melangkah
Kau beri aku segenggam luka
Mengapa cahaya pelangi menjadi api
Selamat jalan cinta
Selamat berbahagia di atas lukaku
Biarkan kata merangkai hati serupa darah dibalik rantai

FF : JKT48 Love Shania Part 2

Bu ratna pun mulai memperkenalkan murid baru itu.
            “oke anak anak, ini ada murid baru dari solo, silahkan perkenalkan nama mu nak” ucap ibu ratna yang saat itu sedang mengajarkan pelajaran fisika.
            “hallo teman teman nama saya Shania Junianatha. Salam kenal semua” ucap wanita itu dengan senyuman. Aku punya hanya benggong cewek yang bersama ku di taman kemarin ternyata satu sekolah sama aku dan satu kelas pula, betapa senangnya aku.    
            “oh ya itu kamu duduk di situ saja ya karena cuma di situ yang kosong” pinta ibu Ratna yang menunjuk kursi di sebelah ku. Dan sontak aku kaget ternyata Shania duduk samping ku. Betapa senangnya aku duduk samping bidadari cantik seperti dia.
            “ya bu terima kasih” balas Shania dengan senyuman. Dan dia pun duduk di samping aku. Sontak aku pun merasa senang duduk di samping Shania takutnya sih aku gk konsen karena mendengin dia mulu.
            “eh Shania ternyata kamu masuk sekolah disini ya. atau jangan jangan kamu cari biodata aku terus kamu suruh ayah kamu masuk sekolah sama aku biar ketemu aku terus kan” sahut aku dengan pede.
            “ih kamu mana ada tau aku kan di suruh ayah ku bukan aku yang mau..geer ni yee” jawab Shania dengan muka merah.
            “tapi kok mukanya merah tu ciiee” jawab ku dengan ketawa kecil.
            “hiih mana ada tu loh” jawab Shania dengan muka malunya dan dia mencibut ku.
            “aduh sakit nih” kata ku dengan menjerit kesakitan, ternyata percakapan ku di lihat oleh ridwan karena dia sendiri di belakang ku.
            “ciiieee Rendy mulai modus dengan anak baru ni yeee!” kata ridwan dengan suara di kerasin biar anak anak sekelas dengar. Sontak anak anak sekelas lihat ke arahku dan Shania. “ciieeee Rendy mulai PDKT dengan shania ni yeee!” anak sekelas semua serentak untuk mengolok ku dengan suara nyaring , so pasti aku dan Shania malu banget sampai salting.
            Dan pelajaran kembali seperti semula.
            Tidak terasa jam menunjukan pukul 13:00 waktunya pulang.
            “ayo shan, kita pulang tuh yang lain udah pulang loh kita aja belum nih!” kata ku sambil ngajak Shania pulang
            “ayo dah, aku juga mau istirahat capek banget hari ini” kata Shania dengan muka lesu kecapekan..“oh tuhan mengapa engkau biarkan bidadari secantik ini turun ke bumi meski mukanya kecapekan tetap cantik banget ya tuhan” ucap ku dalam hati. Sambil melamun, dan Shania pun bingung kenapa aku melamun.
            “oy kenapa melamun ntar di masukin setan loh!” ujar Shania sambil melambaikan tangan ke muka ku
            “eh iya nih aku melamuni kamu kok kamu cantik banget sih?” kata ku sambil menggodanya.
            “dasar mas gombal ni, memang hobinya gombal nih” kata Shania dengan muka malu seiring dengan dia mencubit tangan ku.
            “aww sakit nih udh dua kali dalam hari ini loh kamu mencubit aku,kurang 1 lagi biar kayak makanan sehari hari” kata ku dengan muka agak sedikit kesakitan, biasa modus biar dapatkan hati Shania.
            “hahaha.. aneh aneh aja kamu nih loh?” ucap Shania yang sedikit ketawa.
            Aku dan Shania pun kedepan gerbang sekolah.
“oh ya shan kamu pulang sama siapa?” Tanya ku dengan berharap bias mengantar Shania pulang.
            “gk tau nih, ayah ku lagi kerja nih” kata Shania sambil melihat mobil yang melintas di depan pagar sekolah.
            “gimana kalo bareng aku aja deh shan?” modus kembali berlanjut.
            “emm gimana ya? Boleh deh kayaknya seru pulang bareng sama tukang gombal” kata Shania dengan senyumnya yang indah itu.
            “emm ya udh deh kalo yang ngolok orang cantik gpp deh asalkan bisa pulang bareng” kata ku. Dan aku pun langsung mengambil motor ku di parkiran dengan motor yang disain motor klasik.
            “ayo naik shan ini helmnya” ucap ku sambil memberi helm kepada Shania .
            “unik juga ya helmnya kayak orangnya” kata Shania sambil senyum dan menaiki motor ku.
            “udah siap shan?”
            “oke. Siap!!”.
Dan motor yang kita naikin pun jalan, tiba tiba Shania memegang ku dengan eratnya “ wow enak sekali ya di peluk sama Shania hangat, ya tuhan kalo iya jodoh ku jangan pisahkan aku dengan dia ya tuhan” kata ku dalam hati.
            Gk lama kendaraan yang kita naikin sampai di depan rumah Shania.
            “terima kasih ya ren, udah mau ngantar pulang aku” kata Shania dengan senyum.
            “ya sama sama, eh kamu ada rencana gk besok sepulang sekolah?”.
            “gk ada tuh, memang kenapa?” jawab Shania yang memasang muka bingung.
            “besok aku mau beli buku nih temani ya” kata ku sambil membujuk Shania untuk menemani ku besok.
            “emm gimana ya, ya udah deh aku mau, aku juga mau cari buku nih. Ya udh aku masuk dulu ya. Bye  ”.. sambil melambaikan tangan ke arah ku.
            Aku hanya membalasnya dengan senyum. Dan aku pun langsung menjalankan motor ku dan perlahan lahan aku pergi meninggalkan rumah Shania.
            Sesampai aku di rumah, aku pun langsung ganti baju dan berbaring di kasur ku, aku pun membayangkan kejadian tadi. “wah seru sekali ya tadi sekolah, apa lagi tadi duduk samping bidadari cantik heh, rasanya pingin cepat cepat sekolah lagi besok”.
            Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku ke hp ku yang sedang bunyi “wah tumben Shania nelfon nih ada apa ya? Kangen mungkin nih orang”. Kata ku dengan pede. “halo ada apa shan?” Tanya ku “y ren, tadi kan ada tugas tuh dari bu ratna, nah tugasnya tadi apa, aku lupa nyatat tadi” Ucap Shania dengan suara panik.
“oh tugas bu ratna, ini aku sebutin aja atau aku kerumah bidadari yang lagi nelfon aku ini?”.
            “hiii dasar gombal. Ya sudah kerumah ku aja deh mas gombal” kata Shania dengan suara malunya itu.
            “oke aku akan kesana” dan seketika telfon di tutup Shania. Aku pun langsung bergegas kerumah Shania dan tidak lupa aku membawa buku tugas dari bu ratna.
            Pas sesampainya aku di rumah Shania ternyata ada ibunya Shania di depan rumahnya
            “Permisi tante ada Shanianya?”
            “ada dia di dalam, duduk dulu dek, saya panggilkan dulu Shanianya” kata ibunya Shania yang menyuruh ku duduk dan masuk ke dalam untuk memanggil Shania.
“Shania! Itu ada teman mu di luar!”.
            “iya bu”. Shania pun keluar rumah,
            “wah Shania cantik juga ya meski pakai baju rumah” kata ku dengan suara kecil
            “apa tadi kata mu” ternyata Shania mendengar kata kata ku barusan.
            “E-eh gpp kok, ini bukunya” dengan gugup sambil memberi kan buku tulis ku.
            “hehe oh ya, ntar ya aku bikinkan minum dulu,sekalian ambil buku tulis, ntar dulu ya” Shania pun masuk kedalam. Aku pun hanya duduk sambil memandangi di sekitar rumah Shania yang sejuk.
            Tidak lama kemudian Shania datang membawa minuman dingin dan buku tulisnya serta yang pasti polpen.
            “eh maaf agak lama ya nunggunya ini minuman”.
            “gk kok, gk lama oh ya thank’s ya tulis gih dulu”
            “oke oke mas gombal”, dan langsung dia menulis tugas dari bu ratna.
            Gk lama pun aku mengambil segelas minuman yang tadi di suguhkan oleh Shania.
            “ehmm pait” kata ku yang melihat ke bawah, dan langsung aku liat ke arah Shania.
“eh jadi manis nih”..
“hii apaan sih gombal”
“hiihhh rasakan” Shania pun langsung mencubitku.
”hehehe aww, untung gk sakit”
“mana ada pasti sakit tuh”
“hahaha iya deh iya sakitt, aduh sakit tolong ambulan ambulan aku sakit nih di cubit Shania” .
“alay deh rendy, ternyata rendy bukan tukang gombal aja ya tapi juga alay hahaha” Shania pun tertawa.
“ya tuhan kapan lagi aku bisa ketawa bareng orang yg ku cintai ini aku ingin selamanya begini, aku ingin hanya maut yang bisa memisahkan kita berdua” ucap ku di dalam hati..
            Tak terasa sudah mulai senja aku pun bepamitan dengan Shania dan tentunya calon mertua aku *hehehe*.
            Sesampainya di rumah, aku pun langsung membersihkan tubuh ku dan tak lupa makan malam, aku pun langsung menuju kamar dan niat ku menelfon Shania.
            Tuuuuutttt tuuuut tuuuuuutttt
            “Halo ada apa ren?”.
            “Gpp kok.. ya lagi pengen denger suara bidadari nih. Oh ya bidadari ku lagi ngapain nih”.
            “ihh kamu memang tukang gombal nih, lagi mandangin bintang nih, memang kamu sendiri kamu lagi ngapain?”
            “lagi mandangin bulan juga nih dari jendela kamar, indah juga ya bulan purnamanya?”
            “iya nih terang benerang”.
            “ya semoga hanya dia yang bisa menerangin malam malam ini” kata ku dalam hati.
            “eh kok diam sih, melamuni siapa hayoooo?”.
            “e-eh gk kok, hehehe” kata ku nyegir sedikit.
Malam itu kita mengobrol dengan becanda.                
            Tak terasa sudah larut malam kami pun tidur untuk kesekolah besok.
            Ke esokan harinya aku pun langsung bergegas untuk sekolah. Sesampainya aku kesekolah aku pun langsung masuk ke kelas untuk memulai hari hari seperti biasa, dan tentunya sama bidadari cantik ku.
            Tidak terasa sudah waktunya pulang.
            “shan jadi gk nih kita ke toko buku?” Tanya ku sembari memasukan buku buku ku ke dalam tas.
            “tentu dong ren. Ayo kita berangkat” kata Shania sambil berdiri dan menarik ku.
            “oke oke” aku dan Shania pun langsung ke parkiran untuk mengambil motor ku itu.
            Aku dan Shania pun berjalan ke salah satu mall, sesampainya di mall aku pun langsung mencari tempat toko buku dan sesampai di toko buku  aku pun mencari buku yang aku inginkan.
            “cari buku apa ren?”.
            “emmm buku tetang skateboard nih” .
            “ohh, ntar ya aku cari buku novel” kata Shania sambil meninggal kan aku.
            Aku pun langsung mengambil buku yang ku lihat yang judulnya SKATEBOARD OF LEGEND.
            “wah ini kayaknya keren ini aja deh lumayan untuk menambah ke hebatan ku, dah dapat susul Shania ah” aku pun langsung mendatangi Shania yang saat itu sedang mencari novel. Ya biasa cewek sukanya novel novel cinta
            “udah dapat shan” Tanya ku
”udah ni” sambil menunjukan novelnya kepada ku judulnya lumayan aneh yaitu CINTA KITA SELALU ABADI.
“cieee kayaknya lagi jatuh cinta ni yee kok beli buku yang kayak gitu haahaha” ejek ku ke Shania  
“ih kamu apaan sih, aku suka aja sih cerita cerita gini.. ya lumayan buat di baca baca” kata Shaniasambil mandangin buku yang mau di beli..
“ ayo sudah kita bayar” ajak ku
“ ayo dah” jawab Shania dengan semangat.
            “sini bukunya biar aku aja yang bayarin” kata ku sembari mau membayarkan buku yang di beli.
“ah gk usah aku aja yang bayar. Ntar meropatkan kamu lagi?” jawab Shania yang menolak.
            “gk kok, ya sekali kali aku yang bayarkan” tawar ku
            “yakin nih?” kata Shania yang meragukan ku.
            “ya cantik aku aja yang bayarin ya” tawar ku dengan sedikit menggoda.
            “hii dasar gombal ya udh deh, nih bukunya” kata Shania sambil mengasih bukunya kepada ku.
            Dan aku pun membayar buku yang kita beli sesudah itu pun kita keluar dari toko buku, aku dan Shania pun keliling mall itu. Shania pun langsung menstopkan diri di depan toko boneka
            “eh coba liat” kata Shania sambil menarik ku
“apaan?”.
            “itu bonekanya lucu ya?” Tanya Shania yang mulai gemes dengan boneka itu.
            “emm lucu? Memang kenapa mau beli?” Tanya ku dengan tampang sok keren.
            “emmm iya sih, tapi aku gk bawa duit banyak, liat tu harganya mahal amat?” kata Shania sambil cemberut.
            “iya juga sih”
            “ntar dulu ya ren, aku ke kamar mandi dulu” kata Shania yang berjalan menuju toilet, yang kebetulan di samping toko boneka itu.
            “kira kira kalo aku belikan boneka itu. Apa Shania suka ya?emm. ah belikan aja deh, apa sih yang gk buat bidadari itu.” Aku pun ke dalam toko boneka itu dan mengambil boneka yang tadi di inginkan Shania. Aku pun langsung membayarnya ke kasir. Dan langsung keluar dari toko tersebut.
            “hey maaf ya kalo lama?” kata Shania yang mukanya kayak bersalah,
            “e-eh gk kok” kata ku sambil mensembunyikan boneka itu di belakang ku.
            “apa itu  yang di belakang mu?” kata Shania yang mencoba melihat apa yang di belakang ku, tetapi aku mencoba menghindar.
            “g-gk gk kok gpp” kata ku sambil takut ketahuan.
            “emm ya udh” kata Shania sambil cemberut.
            “e-eh jangan cemberut” kata ku sambil membujuk agar dia tidak marah.
            “habis kamunya sih gitu” kata Shania yang masih cemberut.
            “hehehehe, ini aku ada hadiah buat kamu” kata ku sambil mengasih boneka yang tadi Shania inginkan.
            “wah ini boneka yang ingin aku beli, makasih ya” kata Shania sambil memeluk erat tubuh ku.
            “e-e ya sama sama” aku pun membalas pelukan Shania tadi sungguh hangat pelukannya.
            “ya tuhan semoga pelukan ini yang pertama tadi bukan yang terakhir ya tuhan” ucap ku dalam hati dan tersenyum.
            Shania pun melepaskan pelukannya dan menangis haru. Aku pun langsung sigap mengambil tissue dalam kantong ku dan langsung menghapus air mata wanita yang ku cinta ini.      
            “jangan nangis. Ayo kita makan laper nih.” Kata ku sambil mengajak Shania makan.
            “ayok tapi jangan di sini di luar aja yok!” kata Shania yang menghapus air matanya.
            “ayo dah”.
            Aku dan Shania pun berjalan ke parkiran. Dan langsung menjalankan motor ku untuk mencari makan di luar, di tengah tengah perjalanan.
            “makan di mana nih kita shan?” Tanya ku, yang masih konsen menyetir motor ku ini.
            “emmm tempat kita pertama bertemu aja yok?” kata Shania, dengan gembira.
Aku pun senang Shania sudah tidak menangis lagi.
            “ayo dah tancap, pegangan ya”
            Shania pun pegangan dengan eratnya,
            “wah enak sekali pelukannya ini” ucap ku dalam hati.
            Aku dan Shania pun sampai di taman pertama kita bertemu.
            “eh situ aja yok makan bakso?” kata Shania yang menarik ku.
            “e-eh iya iya” aku pun ikut aja. Karena pasrah sudah kalo sudah di tarik bidadari satu ini.
            “bang baksonya 2 ya. Sama minum es teh nya 1. Kamu minum apa ren?” kata Shania yang menghadap ku.
            “es teh juga deh biar so sweet jadinya sama” kata ku dengan merayu Shania.
            “hhiii dasar, ya sudah es tehnya 2 ya bang”.
            “eh duduk di situ aja yuk dekat bunga bunga itu”. Kata ku sambil menunjuk tempat pertama kita bertemu.
            “ayok” kata Shania lagi lagi dia menarik ku.
            Aku pun dan Shania duduk di tempat kita pertama bertemu.
            “emm masih sejuk aja ya di sini. Semoga 20 tahun ke depan tetap sejuk” kata Shania yang melihat sekeliling
            “iya nih semoga tetap sejuk” kata ku yang juga melihat sekeliling,
            Shania pun melihat es krim di dekat air mancur.
            “eh ntar ya aku beli es krim ya tunggu di sini” kata Shania yang mulai berjalan ke arah penjual es kirm.
            Aku pun hanya duduk. Seketika aku pun melihat ada ranting ranting pohon berjatuhan.
            “wah ada ranting ranting tu. Boleh juga nih ku buat karya seni”. Kata ku sambil menggambil satu persatu ranting pohon yang berjatuhan.
            “cukup dah ini” kata ku sambil berjalan kembali ke kursi sambil memasukan ranting rating pohon itu ke tas ku.
            Gk lama abang baksonya datang sambil membawa bakso yang ku pesen tadi, dan Shania pun datang
            “makan baksonya dulu deh shan baru es krimnya” kata ku sambil mengangkat bakso itu ke arah Shania.
            “iya betul juga eskrimnya taruh sini aja dulu” kata Shania sambil menaruh es krim itu di sampingnya.
            Kami pun makan bakso dengan lahapnya. Dan hingga habis, kami pun langsung memakan es krim itu takutnya ntar makin meleleh. Ketika makan es krim.
            “shania Shania makan es krim tu jangan clemotan dong masa udah gede clemotan” kata ku sambil geleng geleng kepala, dan mengambil tissue di kantong ku tadi. Dan aku pun membersihkan mulu Shania yang blepotan es krim itu.
            “heheh maaf deh” kata Shania sambil nyengir.
            Aku pun menyelesaikan makan es krim ku dan langsung mengembalikan mangkok dan gelas ke abang tukang bakso, dan langsung membayar nya, dan aku pun kembali ke tempat duduk ku bersama Shania.
            “ayok shan pulang udh mulai gelap nih” ajak ku kepada Shania.
            “ayok” kata Shania yang langsung berdiri.
            Tidak lama kemudian Shania pun memegang tangan ku.
            Aku pun merasa nyaman tangan ku di pegang Shania tidak ada rasa gugup atau apa. Dan kita pun langsung ke tempat aku memparkirkan motor ku. Aku pun langsung mengantarkan Shania pulang.
            “makasih ya shan, sudah mau menemani ku mencari buku” kata ku sambil melepaskan helm ku
            “eh kenapa kamu yang berterima kasih, harusnya aku, soalnya kamu udah membelikan aku boneka ini.”Kata Shania dengan senyum. “ oh ya aku masuk dulu ya” kata Shania. Aku pun kaget tiba tiba Shania mencium pipi ku. Aku hanya bisa melamun.”hati hati ya di jalan, ren” kata Shania sambil masuk ke dalam rumahnya. Aku pun membalasnya dengan senyuman, tapi aku masih merasa indahnya di cium oleh dia.
            Aku pun langsung meninggalkan rumahnya Shania. Dan langsung menuju rumah.
Sesampainya di rumah aku pun langsung melakukan pekerjaan ku seperti biasa. Ketika selesai aku pun langsung ke kamar ku.
            “wah di cium Shania tadi. Gk nyangka ya aku bisa di cium dia, enak sekali sumpah deh” kata ku sambil berbaring. Soalnya ini pertama kalinya aku di cium cewek. Soalnya aku sebelumnya belum pernah di cium.
            “rendy ke bawah dulu ayah mau ngomong sama kamu sebentar!” kata ayah ku dari bawah.
            “ya pah rendy turun..” aku pun langsung ke bawah dan mendatangi ayah ku.
            Aku kaget dengan berita dari ayah ku ini.

~BERSAMBUNG~



FF : JKT48 Love Shania Part 1


Matahari di siang itu terasa terik sekali, hari itu aku berniat untuk jalan jalan ketaman dengan papan skateboard ku, untuk menghibur diri sebelum akhirnya masuk sekolah. Ketika asik jalan jalan di taman aku terpana kepada seorang wanita yang sedang duduk di taman itu, dia terlihat cantik, dengan senyuman yang indah, wajah yang manis, aku mencoba mendatanginya untuk berkenalan.
“Hei boleh aku duduk disini?” Tanya ku dengan senyuman kecil.
“oh ya boleh silahkan” jawab wanita itu dengan senyuman yang mempesona yang membuat aku terpana.
“lagi nunggu sesuatu?” Tanya ku, aku memang terkenal dengan suka berteman dengan siapa saja, sampai orang gila pun aku temani *oke balik ke KTP eh salah PKT salah lagi TKP nah baru betul*
“iya nih lagi nunggu jemputan, tapi aku masih ingin berlama lama disini karena tempat ini indah dan sejuk” ujar wanita tersebut dengan penuh senyuman yang membuat ku mau mimisan.
“iya sih memang indah. Oh ya kita belum kenalan, aku Rendy” dengan tampang sok asik aku pun mengajak wanita itu berkenalan.
“aku Shania. Oh ya aku udh di jemputin nih ren aku pulang dulu ya” ujar Shania yang menuju kearah mobilnya.
“oh ya dah, kalo mau ngomong lebih lanjut besok kesini lagi ya jam 3 sore” kata ku sambil teriak dan berharap Shania mau datang ke taman ini lagi besok.
Shania hanya membalas dengan senyuman, entah aku tidak tau itu dia mau atau tidak.
Hari semakin senja aku pun langsng pulang kerumah, sesampainya di rumah aku pun langsung bergegas ke membersihkan diri setelah itu makan malam, sehabis makan malam aku pun berbaring di kamar ku “wah Shania itu cantik juga ya kalo di pikir pikir apa lagi kalo senyum wah cantik amat dah, tapi besok Shania mau gk ya datang ke taman lagi, ah paling datang lagi kok.” Ujarku sambil menghayal muka Shania yang cantik tadi, tiba tiba aku teringat “kenapa tadi aku gk minta nomor hpnya”. “POKOKNYA BESOK HARUS MINTA NOMOR HP SHANIA!!” teriak ku sekeras mungkin
“Oy Ren berisik!!” teriak kakak ku dari bawah.
“ oh ya kak maaf. Hehehe..”

Malam makin larut aku pun beristirahat dan berdoa supaya Shania besok datang ke taman.

Akhirnya Matahari terbit aku pun bergegas untuk bangun dari tempat tidurku tidak lupa aku membereskan tempat tidurku, setelah itu aku langsung membersihkan diri, dan setelah itu sarapan,

“ngomong ngomong Shania sarapan gk ya pagi ini, semoga saja sarapan deh”

sehabis sarapan aku bosen dan langsung menuju laptop ku untuk bermain game di laptop, gk terasa sudah jam 2 siang ia pun langsung bersiap siap untuk pergi ke taman, sesampainya di taman “wah Shania kayaknya gk datang deh padahal ini kan jam 2, tungguin aja deh sekalian main skateboard” ucap ku, tak lama aku main skateboard ada wanita datang dari depan ku dan ternyata itu Shania “wah ternyata dia datang, dia juga cantik hari ini seperti kemarin” ucap ku di dalam hati.
“hey Ren udh lama nunggu?” Tanya Shania dengan senyuman yg indah.
“gk kok baru aja aku datang. Duduk dulu ya Shan” ucap ku sambil mengajak dia duduk.
“ayo!” kata Shania masih dengan senyumannya.
Kami pun duduk untuk melihat pemandangan indah di sekitar taman.
“oh ya shan kamu masih sekolah kah?” Tanya ku
“ya lah masa masih muda gini kok. Sebenarnya sih aku ini pindahan dari solo, baru berapa minggu”
“wah ternyata kamu anak baru ya, memang kamu kelas berapa?” Tanya ku
“aku kelas XI SMA, dan sampai sekarang aku masih gk tau tuh masuk sekolah mana kata ayah ku sih itu kejutan” kata Shania yang sangat senang.
“wah sama dong aku juga kelas XI SMA, kamu masuk hari apa? Kalo aku sih besok udh masuk”
“iya aku juga besok nih, ya semoga besok aku masuk sekolah terbaik deh”
“oh ya kamu laper gk?” tanya ku sambil memegang perut.
“lumayan sih, kamu mau makan apa? Tu ada banyak ntar aku yang pesani deh” tawar Shania.
“kok kamu jadi yang repot. Kan aku yang mau makan, kamu mau makan apa?” aku pun menawarnya balik.
“bakso aja deh, yang itu” kata Shania. Sambil menunjuk ketukang bakso yang di dekat air mancur itu.
“oh itu, bentar ya aku beliin dulu” kata ku sambil jalan meninggalkan Shania.
“bang baksonya satu sama sotonya satu minumnya es teh ya bang ntar antar. kesana yaa?” kata ku sambil menunjuk tempat duduk ku bersama Shania.
Aku pun kembali ke tempat duduk ku bersama Shania.
“sudah di pesan kah makanannya?” tanya Shania.
“sudah kok tunggu aja bentar” ucap ku.
Dan gk lama tukang bakso itu pun datang. Dan membawa pesanan yang ku pesan tadi.
“nih mas pesanannya” kata tukang bakso tadi.
“oh ya makasih bang” ucap ku dan tukang bakso itu kembali ke gerobaknya.
“makan dulu shan” tawar ku.
“eh iya ren”
Kita pun makan pesanan yang tadi di pesan dengan lahapnya
“heh kita mutar mutar taman yok” ajak Shania, entah mengapa kok disini Shania kayaknya mulai akrab sama aku, padahal kenal aku aja baru kemarin.
‘e-eh” kata ku sedikit terpatah patah.
“ayok sudah” Shania pun menarik ku. Dan aku hanya bisa pasrah.
Pemandangan di taman saat itu benar benar indah, bunga bunga bermekaran, aku pun melihat Shania yang mukanya senang seperti itu, hati ku terasa adem banget, entah kenapa kok aku merasa nyaman sama dia.
Dia pun menoleh ku, dan aku langsung salah tingkah.
“liatin siapa kamu ren? Liat aku ya” kata Shania.
“ e-eh gk kok, pede amat sih” kata ku, dengan sedikit gugup.
“tapi kok gugup gitu, hayooo mau bohong ni ya” kata Shania yang mulai sirik.
“mana ada kok, eh ngomong ngomong indah ya” kata ku dengan mengalihkan pembicaraan.
“iya nih indah banget, semoga keindahan ini tidak berlalu cepat” kata Shania sambil memandangin taman itu.
“aku sih maunya, semoga bisa terus jalan bedua sama kamu” ucap ku dalam hati sambil melamun.
Shania pun melambaikan tangannya kepada ku “melamuni apa tuh” kata Shania yang mulai sirik lagi.
“e-eh gk kok, gpp” kata ku dengan terpatah patah.
“oh ya, kok kamu bisa mau nerima ajakan ku kemarin untuk ketemuan disini lagi, padahal kan kita belum kenal 1 sama lain?” tanya ku kepada Shania.
“emm ya aku merasa beda aja, kamu sama orang lain, dari cara mu ngomong saja beda dengan yang lainnya, makanya aku pingin kenalan lebih jauh sama kamu” kata Shania.
“wow kata kata shania sangat menyentuh sekali heh. Ternyata dia dewasa juga ya” kata ku di dalam hati.
“Hahaha jangan memuji gitu dong jadi malu aku.” Kata ku sambil menggaruk garuk kepala.
“hehehe.. aku gk muji kok kenyataan” kata Shania sambil tersenyum
Mereka pun bercengkraman dengan asiknya tanpa mereka sadari Matahari mulai terbenam, dan Shania pun di jemput oleh ayahnya dengan mobil.

“wah aku udh di jemput nih aku pulang dulu ya” ucap Shania berpamitan dengan ku.

“oke, eh bentar aku boleh minta nomor mu gk” bujuk ku untuk meminta nomor bidadari.

 “boleh deh catet ya” ucap Shania.

Aku pun mencatat angka demi angka yg di sebutin oleh bidadari itu
“oke thanks ya” ucap ku
“iya, dadah aku pulang dulu ya” Shania melambaikan tangannya dan senyuman indahnya itu.
“iya dadah” aku pun melambaikan tangan juga dan membalas senyuman itu.
Dan mobil Shania perlahan lahan meniggalkan taman.. aku pun langsung membayar makanan yang tadi ku pesan dan aku pun pulang sesampai di rumah aku pun langsung membersihkan diri dan tidak lupa makan malam.
Aku pun berbaring di kasur ku “Shania lagi apa ya, ku telfon aja ah”
Tuuutt tuuuutt ttuuuut
“halo ini dengan siapa?” Tanya wanita yang suaranya indah sekali lebih indah dari yang asli..
“ini aku shan, Rendy.. ganggu ya?” Tanya ku
“oh Rendy, gk kok ren, oh ya kamu lagi ngapain nih”
“lagi mikirin kamu” ucap ku
“ih dasar gombal” jawab Shania dengan suara kayaknya lagi senang nih.
“heheheh memang kok, kamu sendiri memang lagi ngapain?” Tanya ku yang mulai akrab sama Shania.
“lagi dengar lagu AKB48 nih. Judulnya Kimi ni au tabi koi wo suru, pernah dengar gk tuh bagus loh” kata Shania yang mencoba meyakinkan aku.
“kalo AKB48 mah aku tau tapi aku gk pernah dengar lagu lagunya ntar deh aku cari” kata ku sambil berjalan menuju laptop ku untuk mencari lagu lagu AKB48, dulunya sih aku gk pernah dengar tuh lagu lagu AKB48, tapi sekaarang aku mencoba untuk mencari lagu lagu tentang AKB48 siapa tau kalo aku tau tentang AKB48 shania jadi suka aku.
“oh ya ren, kamu skateboarder kah, kok ku lihat tadi kamu main skateboard sebelum aku datang tadi di taman?” Tanya Shania, aku bingung kok tumben ada cewek yang tanya aku, apakah aku seorang skater.
“e-emang kenapa?” Tanya ku yang terpatah patah.
“gpp sih, Cuma mau tanya. Jadi apa nih jawabannya?” kata Shania.
“ya aku seorang skater” kata ku dengan tenang.
“Pernah ikut lomba kah?”
“Pernah, nasional maupun internasional”
“Wah hebat dong, lain kali kalo kamu ada tournament di jepang, aku boleh ikut dong, soalnya aku pingin banget nih ke jepang” kata Shania kayaknya bersemangat. “Memangnya kamu gk pernah ke jepang?” tanya ku.
“iya aku dari kecil pingin banget ke jepang, yah itu salah satu cita cita ku?” kata Shania
“memang cita cita mu apa aja shan?” tanya ku.
“cita cita ku, emm jadi psikolog dan ibu rumah tangga yang bekerja”
“wah psikolog, keren tuh kayak, jadi enak tuh aku kalo ada masalah ntar sama kamu aja hehehe” kata ku sambil ketawa.
“hehehe boleh juga tuh. Kalo kamu sendiri jadi apa memang?”
“kalo aku sih jadi sktater terkenal dunia” Kata rendy.
Obrolan kami hingga larut malam, dan akhirnya pembicaraan kita terhenti karena aku dan Shania besok harus sekolah.

Ke esokan harinya aku harus masuk sekolah, aku pun bangun dan langsung menpersiapkan diri untuk sekolah.. sesampainya aku kesekolah anak anak kelas XI pada ramai melihat papan mading karena pengumuman untuk kelas apa yg akan meraka masukin aku senang karena aku masuk XI IPA I, akhirnya usaha keras ku terbayar tuntas untuk masuk kelas idaman. Aku pun satu kelas dengan sahabat ku dari SMP yaitu Ridwan. Kelas pun memulai pelajaran di hari pertama dan ternyata ada anak baru yang pindahan dan aku pun kaget melihat orang itu.


~BERSAMBUNG~


Powered by Blogger.