CERPEN : Mencuri Puding

Hari ini, atau lebih tepatnya lagi tanggal 5 Maret, Papa berulang tahun. Mama menyiapkan puding untuk Papa yang akan pulang dari kantor jam 7 malam. Kulihat pudingnya sudah jadi. Puding karamel yang menggoda ditambah warna coklatnya yang mengiurkan itu membuatku ingin segera melahapnya. Tetapi, Mama melarangku untuk memakannya, karena, puding itu untuk Papa. “Tunggu Papa pulang baru boleh dimakan..” Itulah kata-kata Mama yang membuat wajahku cemberut.
Mama, Kak Mila (kakakku) dan Fara (adikku), sedang tidur siang. Diam diam aku pergi ke dapur dan menuju ke kulkas.
TUITTT… Suara pintu kulkas saat kubuka. Mataku membesar, mulutku tersenyum lebar dan lidahku menari kegirangan saat melihat puding karamel buatan Mama tepat di depanku. Kuambil dan segera kulahap puding itu. “Enak!!”

“Aah… Kenyang..” Puding telah habis tak bersisa setelah kumakan. Kukembalikan cetakan puding itu ke kulkas tanpa pudingnya. Aku pergi ke WC atau toilet dan mencuci tangan ke wastafel. Pelan-pelan aku kembali ke kamar agar tak ketahuan bahwa aku telah MENCURI PUDING di rumahku sendiri.
Jam 7.15 Papa pulang. Mama dengan senyuman menghampiri Papa dan menolong Papa melepaskan dasinya. “Ma, ma.. Sekarang yah…!” Seru Kak Mila sambil mengedipkan mata kirinya. Mama membalas dengan anggukan kepala.
“MAMAAA!!! PUDINGNYA HILANGG!!! HANYAA ADA CETAKANNYA NIIIH!!” Teriak Kak Mila dari dapur. Aku yang ke dapur ini hanya memasang wajah pucat. Aku setengah menyesal karena perbuatanku yang bodoh ini. Aku melanggar janjiku pada Mama saat Mama telah selesai membuat puding…
“Kalian janji ya untuk tidak memakan puding ini kecuali saat Papa datang?” Kata Mama.
“Janji Ma!” Janjiku, Kak Mila dan Fara sambil mengacungkan jari kelingking kami.
Dan sekarang…

Aku malah melanggar janjiku sendiri. Aku menyesal. Benar-benar menyesal…
Tak ada kata lain lagi selain… MENYESAL.

“Siapa yang memakannya sih. Dasar tuh orang. Gak tau ya kalau bikin puding itu susah, karena harus sabar dan berhati-hati!” Omel Fara yang membuatku tertegun.
“Iya. Siapa sih yang makannya..” Tambah Mama.
“Sebenarnya… Sebenarnya… Siang tadi.. Tasha… Yang memakannya…” Kataku terpotong-potong.
“Jadi, kam…”. Papa yang sudah selesai mandi, ternyata mendengar pembicaraan kami. “Ada apa ini? Kok, kelihatannya penting banget? Ikut dong..” Kata Papa manja sekaligus memotong perkataan Mama.
“Maaf, ma…” Kataku pelan sambil menundukkan kepala

“Jadi, begitu… Gak apa apa kok, Sha… Papa juga diberi kue nih sama bos Papa. Jadi, kita makan bareng kue ini saja, yuk!” Seru Papa.
Akhirnya, masalah selesai. Dengan jujur ternyata semua masalah bisa selesai. Awal yang rumit, akhir yang bahagia….
Kalian bisa mengambil pelajaran berharga yang tercantum pada cerita ini.
Terima kasih telah membaca…
Cerpen Karangan: Hannisa Tsabitah Aura

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.